Kamis, 27 Februari 2014

KaBuT KAsuMi

Kasumi menatap Isao dari kejauhan. Sepupunya itu kelihatan gagah dan tampan. Biasanya pun seperti itu. Apalagi sekarang, saat lelaki yang baru saja merayakan  ultah yang kedua puluh itu akan mengadakan upacara pernikahan Shinto.
Shinto hanya dihadiri oleh keluarga dan kerabat dekat mereka saja. Hanya ada sekitar tiga puluhan orang dari pihak lelaki, dan tiga puluhan orang juga dari  pihak perempuan. Isao sendiri konon yang memilih untuk mengadakannya di altar suci ini dipimpin pendeta Shinto, dibanding ke hotel atau restauran yang juga dilengkapi dengan sebuah ruangan khusus bagi upacara pernikahan. Kuil Daijingu di Chiyoda Tokyo ini memang terkenal sebagai tempat pertama dilangsungkannya Sintho sebelum akhirnya tradisi ini menyebar ke seluruh Jepang. Selain Isao, ternyata banyak pasangan lain yang juga mengikat janji hari ini. Mungkin karena ini salah satu dari hari-hari keberuntungan tertentu dalam kalender Jepang.
“Kamu kelihatan pucat, Kasumi”
“Aku nggak apa – apa, bu” gadis itu menundukkan kepalanya demi menutupi  raut sedih dan cemburu yang bercampur jadi satu.
Kasumi memegangi dadanya, menyembunyikan perihnya, sejak awal upacara pernikahan saat Isao dan pengantin perempuan dimurnikan oleh pendeta Shinto. Ada yang berteriak dalam dada Kasumi saat Isao dan perempuan itu melakukan ritual san-sankudo. Selama ritual ini, mempelai perempuan dan pria bergiliran menghirup sake, sejenis anggur yang terbuat dari beras yang difermentasikan, Isao menghirup sembilan kali dari tiga cangkir yang disediakan, pun demikian dengan perempuan di sisinya. Kabut di mata Kasumi makin tebal. Hatinya menjerit nyeri. Seharusnya dia yang ada di sisi Isao. Atau semestinya Isao tidak ada di sini. Seharusnya Isao mati.
Saat mempelai perempuan dan Isao saling berhadapan untuk mengucap janji, keluarga mereka juga saling berhadapan. Kasumi yang hadir sebagai bagian dari keluarga Isao sebenarnya merasa tak kuat lagi memendam perih batinnya. Namun adat dan sopan santun tetap menjadi prioritasnya, sehingga dia mencoba bertahan.
Setelah ucap janji, anggota keluarga dan kerabat dekat dari kedua mempelai saling bergantian minum sake, menandakan persatuan atau ikatan melalui pernikahan. Kasumi yang seharusnya juga meminumnya, hanya membasahi sedikit bibirnya dengan sake itu. Takkan masuk ke dalam perut jika dia paksakan, karena yang terjadi mungkin dia malah akan memuntahkannya.
Selesai upacara, Kasumi bersama saudara yang lain mengeluarkan sesaji berupa ranting Sakaki, sejenis pohon keramat, yang ditujukan kepada Dewa Shinto.
“Semua ritual Shinto ini untuk mengusir roh-roh jahat dengan cara pembersihan, doa dan persembahan kepada Dewa” bisik ibunya saat Kasumi menanyakan hal ini.
Prosesi pernikahan sebenarnya singkat dan sederhana juga sangat khidmat. Apalagi maknanya memang untuk memperkuat janji pernikahan dan mengikat pernikahan fisik kedua mempelai secara rohani. Tapi semuanya terasa lama, panjang dan menyiksa bagi Kasumi.
Baginya semua ini seperti mimpi buruk.  Nama  Isao – sepupu dari garis ayahnya itu- sebenarnya berarti kehormatan. Dengan pernikahan ini, semakin terhormatlah dia, semestinya. Tapi Kasumi menyimpan kisah yang perih dan menyakitkan tentang Isao. Pedihnya masih terasa sampai kini, dan entah sampai kapan.

Naoko, perempuan yang entah beruntung atau justru rugi karena dipersunting Isao, kulitnya dicat putih dari kepala hingga ujung kaki. Konon itu melambangkan kesucian, sekaligus menyatakan status kesuciannya kepada para dewa. Yach, nama Naoko artinya anak yang baik dan terhormat. Kini dia benar – benar telah terhormat karena sampai di pelaminan, tempat mengikat janji suci. Dengan selamat, tanpa kecelakaan sebelumnya seperti pada umumnya anak – anak muda jaman sekarang.
Sedangkan aku? Aku adalah Kasumi, sebuah nama yang artinya  adalah kabut, bisik hati Kasumi dengan kesal. Seperti itulah dirinya, berkabut pilu dan kematian jiwa sementara raganya masih ada.
Tragisnya Naoko -yang entah beruntung atau merugi itu- kemarin sempat meminta pendapat Kasumi di saat disuruh memilih oleh periasnya, mana yang dia pilih di antara dua topi pernikahan tradisional. Satu adalah penutup kepala pernikahan berwarna putih yang disebut tsuni kakushi, yang secara harafiah bermakna menyembunyikan tanduk. Dipenuhi dengan ornamen rambut kanzashi di bagian atasnya.
“Tudung ini untuk menyembunyikan "tanduk kecemburuan", keakuan dan egoisme dari ibu mertua - yang sekarang akan menjadi kepala keluarga. Kita, masyarakat Jepang percaya bahwa cacat karakter seperti ini perlu ditunjukkan dalam sebuah pernikahan di depan mempelai pria dan keluarganya” jelas sang perias saat Naoko menanyakannya.
Kasumi dengan hati yang berantakan, menyilangkan tangan bersedekap di dadanya yang serasa remuk.
“Penutup kepala yang ditempelkan pada kimono putih mempelai perempuan, ini juga melambangkan ketetapan hati untuk menjadi istri yang patuh dan lembut dan kesedian untuk melaksanakan peran dengan kesabaran dan ketenangan.” Sang perias memasangkan topi itu di kepala Naoko agar mereka sama – sama bisa melihat tampilannya.
“sudah jadi kepercayaan tradisional kita bahwa rambut sebaiknya dibiarkan tidak dibersihkan, sehingga butuh mengenakan hiasan kepala untuk menyembunyikan rambut “ perias itu tertawa kecil melihat reaksi Kasumi dan Naoko yang sama – sama bergidik.
“Bagaimana menurutmu yang ini?” Naoko menghadap ke arah Kasumi.
“Coba yang satunya” meski enggan, toh Kasumi tidak boleh menampakkannya. Dan lagi kekesalannya bukan pada Naoko kan. Tapi pada Isao.
Hiasan kepala tradisional lain yang dapat dipilih mempelai perempuan adalah wata boushi.
“Dengan ini, wajah mempelai perempuan benar-benar tersembunyi dari siapapun kecuali mempelai pria. Menunjukkan kesopanan sekaligus mencerminkan kualitas kebijakan yang paling dihargai dalam pribadi perempuan” sang perias melepas topi yang tadi, diganti dengan alternatifnya.
“Gimana?”  alis Naoko naik, menunggu komentar Kasumi yang menahan keluh.
“Yang ini oke” dicobanya untuk mengukir senyum, tapi Kasumi gagal.
Kesopanan, kebijakan, kehormatan. Taek. Kasumi ingin teriak marah. Tak pernah bisa pupus dari benaknya, bayangan kejadian kala itu. Saat dirinya masih enam tahun, dan Isao mungkin tiga belas atau empat belas tahun. Isao menindihnya di kamar depan rumahnya.
Entah apa yang diajarkan Isao waktu itu padanya, tapi ada rasa dalam hati Kasumi bahwa dirinya tidak lagi terhormat dan berharga. Dia berharap Isao akan membayar perbuatannya itu suatu hari. Tapi hari ini, kenyataan menyatakan tidak
Sekarang, Isao di depan sana, mengenakan kimono pernikahan berwarna hitam. Ibu sang mempelai perempuan menyerahkan anaknya dengan menurunkan tudung Naoko. Setelah tadi ayahnya mengikuti tradisi berjalan mengiringi anak perempuannya menuju altar seperti yang dilakukan para ayah orang Barat.
Kasumi menarik diri dari kerumunan keluarga. Disandarkannya punggung pada dinding dekat meja penerima tamu. Beberapa tamu yang datang belakangan tampak memasukkan goshugi atau uang pemberian dalam amplop ke dalam wadah yang disediakan. Meski ada juga yang memberikannya sesudah upacara pernikahan langsung pada pengantin. Diedarkannya pandangan menyapu ruangan. Ke meja – meja bundar  dengan para tetamu duduk melingkarinya. Sajian makanan mulai dihantarkan oleh panitia ke hadapan mereka.
Cerita – cerita dari keluarga dan teman – teman kedua belah pihak, lelucon, juga nasihat – nasihat para tetua mulai diperdengarkan dan dinikmati semua tamu yang hadir. Semua orang tampak berbahagia. Kecuali dirinya, Kasumi.
Beberapa orang bahkan juga menyumbang lagu, menyanyikan tembang – tembang romantic untuk pengantin dan tamu. Kasumi merasakan ada yang meleleh dari kedua ujung matanya. Semestinya kebahagiaan ini juga milikku, bisik hatinya terdalam. Saat Isao dan Naoko didaulat menyanyi oleh para tetamu dan mereka menyambutnya dengan menembangkan sebuah lagu, Kasumi langsung memalingkan wajahnya. Lagu itu bahkan lagu yang sangat kusukai karena aku mendengar untuk pertama kalinya waktu itu dari Isao.

Tooku de iki wo shiteru
toumei ni natta mitai
Kurayami ni omoeta kedo
mekakushi sareteta dake
Inori wo sasagete
atarashii hi wo matsu
Azayaka ni hikaru umi
sono hate made ee~
Hito no kokoro wa utsuri yuku
nukedashitaku naru
Tsuki wa mata atarashii shuuki
de mune wo tsureteku
Tabi wa mada tsuzuiteku
odayaka na hi mo
Tsuki wa mata atarashii shuuki
de mune wo terashidasu
Inori wo sasagete
atarashii hi wo matsu
Azayaka ni hikaru umi
sono hate made
Unmei no fune wo kogi
nami wa tsugi kara tsugi e to
Watashi-tachi wo osou kedo
sore mo suteki na tabi ne
Dore mo suteki na tabi ne…

Tak ada yang tahu siapa aku sebenarnya
Aku tidak pernah merasakan sehampa ini sebelumnya
Dan jika aku membutuhkan seseorang untuk menemaniku,
Siapa yang akan membuatku nyaman, dan menjagaku tetap kuat?
Kita semua mendayung perahu nasib
Ombak terus datang dan kita tak dapat lari
Tapi jika kita tersesat
Ombak itu akan memandumu melewati hari yang lain
Jauh, Aku bernafas, seakan-akan aku tak terlihat
sepertinya aku dalam kegelapan, tapi sebenarnya hanya mataku saja yang ditutup
Aku berdoa sembari menanti hari yang baru
Bersinar terang hingga ke pinggir laut
Tak ada yang tahu siapa aku sebenarnya
Mungkin mereka sama sekali tak peduli
Tapi jika aku membutuhkan seseorang untuk menemaniku
Aku tahu kau akan mengikutiku, dan menjagaku tetap kuat
Hati orang berubah dan mencoba berlepas diri
Bulan dalam perputarannya memandu perahu ini lagi
Dan tiap kali aku memandang wajahmu
Laut yang bergelombang mengangkat hatiku
Kau membuatku ingin mempertahankan dayung ini, dan segera
Aku dapat melihat ombak itu
Oh, Aku dapat melihat ombak itu
Kapankah aku melihat ombak itu?
Aku ingin kau tahu siapa aku sebenarnya
Aku tak pernah mengira aku merasakan hal ini padamu
Dan jika kau membutuhkan seseorang untuk menemanimu,
Aku akan mengikutimu, dan menjagamu tetap kuat
Dan perjalanan tetap berlanjut dalam hari-hari yang sepi
Bulan dalam perputarannya yang baru di atas perahu ini
Aku berdoa sembari menanti hari yang baru
Bersinar terang hingga ke pinggir laut
Dan tiap kali aku memandang wajahmu
Laut yang bergelombang mengangkat hatiku
Kau membuatku ingin mempertahankan dayung ini, dan segera
Aku dapat melihat ombak itu

“Kasumi. Ayo bantu yuk” seorang bibi yang menangkap basah dirinya sedang menghapus air mata,  malah meminta dirinya ikut sibuk dengan panitia lagi. Menyiapkan tandamata atau hikidemono berisi permen, peralatan makan dan pernak-pernik pernikahan. Yang sudah dipersiapkan malam sebelumnya, dimasukkan ke dalam sebuah tas.
“Nanti kamu ikut bagikan ke para tamu sesudah resepsi selesai untuk mereka bawa pulang” Kasumi hanya mengangguk mengiyakan petunjuk bibinya, sembari terus berusaha menghilangkan kabut dari kedua matanya.
Bagaimanapun dan apapun yang terjadi, dia tidak boleh terlihat sedih di depan Isao. Kasumi tidak pernah bisa membenci sepupunya itu. Isao banyak mengajarinya segala hal. Nilai  - nilai Kasumi yang cemerlang di sekolah juga karena  banyak bimbingan dari Isao. Yang ada tadinya sebenarnya hanyalah harapan dan harapan. Tetapi harapan itu sekarang telah pupus.
Kasumi tidak ingin melihat Isao jatuh jika dia menghinakannya dengan mengungkit kejadian waktu itu. Karena itu sama saja dengan menghinakan diri Kasumi sendiri. Karena tak ada yang tahu sejak itu, saat Kasumi semakin beranjak remaja,dia juga melampiaskannya pada mereka yang lebih kecil dari dirinya. Semua seperti lingkaran setan yang dimulakan oleh Isao. Lelaki di depan sana itu, yang sekarang sedang tampak menyalami tetamu yang memberikan selamat, adalah gurunya. Dan sebagai murid yang setia dan berbakti, Kasumi akan ikut berbahagia saja atas kebahagiaan gurunya meski hatinya perih. Pedih dan nyeri.

Read More ->>

Rabu, 26 Februari 2014

Trending Topic

1.Sinar dengan sepatu baru menankap batu dengan gaya baru dengan sepatu baru di depan boy net lewat sedikit
2. rhandy malu menjumpai erida saat di les "new concept " dan ingin nangis saat gue paksa
3 . kebakaran di girang satu menewaskan korban yaitu etok yg di tabrak oleh pemadam kebakaran dan orang-orang disitu ber inisiatif menbuat etok bakar dan ternyata setelah dimakan etok itu sangat enak sekali
Read More ->>

Kamis, 20 Februari 2014

Cerpen Gossip

Si Udeng waktu itu cerita pas malam-malam gelap di bawah sinar rembulan purnama dan auman serigala. Waktu itu malam jumat kliwon, suasana dingin dan suram banget. Bulu kuduk kami merinding saat Udeng menyalakan senter ke wajahnya yang ia sinari dari bawah dagu. Bukan apa-apa, senter itu terangnya minta ampun hingga kotoran dalem hidungnya terlihat jelas, belum lagi bulu-bulu hidung yang pada tekor, ngelanggar batasan wilayah antara kumis dan dua lubang hidung. Itu yang kami takutin, ngeri lihatnya!
Dengan senter yang masih menyinari wajahnya, ia berbisik lirih, “mau tahu rahasia Omen?” wajahnya mendramatisir, mata menyipit, hidung membengkak.
Kami tersergap rasa penasaran dan rasa ngeri. Kami serentak mengangguk dan memfokuskan perhatian pada orang berambut kribo ini. Lalu wajahnya kembali berekspresi seolah sedang baca puisi tentang seorang arwah penasaran yang gentayangan dan akan balas dendam. Hiii..
“Si Omen malu-maluin gua banget. Gua pernah lihat kebiasaan jeleknya!”
“Ah, kan semua kebiasaannya jelek” protes Said.
“Ini yang paling jelek!”
“Apa sih?” saya penasaran.
“Kemaren, waktu dia ngambek gara-gara gak kebagian lollipop, dia pergi.. kebetulan pas gua mau ke warung beli pembalut, gua lihat dia lagi jongkok sendirian di belakang rumah samping kontrakan!” mata Udeng melotot terlalu semangat cerita.
“Ngapain?”
“Nah, pas di intip..” sekarang matanya menyipit, tarik nafas, dan melotot lagi “Dia lagi ngacak-ngacak sepiteng orang!”
“Ngacak-ngacak?”
“Iya.. Kebetulan sepitengnya cuman ditutup kayu-kayu sama triplek. Kayu dan triplek ini di acak-acak, isi sepitengnya di aduk-aduk pake sebilah bambu, terus Omen ambil sekop, kumpulan tinjanya diambil, di berantakin dimana-mana”
(Mau buat pupuk kali ya?)
“Besoknya, yang punya rumah marah-marah ke rumah. Lemparin piring, gelas, sapu, sampah, panci, wajan, soto, rendang, sayur, ayam goreng, nasi juga buat sarapan, dan yang paling berharga ibu-ibu itu lemparin uang sama emasnya! Yah, lumayan buat modal malam mingguan..” wajah Udeng berubah bersei-seri.
“Berarti si Omen doyan tai dong?”
“Ia kali, gua sih gak peduli. Kan lumayan kalau ibu-ibu marah-marah lagi, dapet makanan, sampah, peralatan dapur, duit juga. Jadi sesering mungkin gua bakal bikin Omen ngambek lagi, biar dia ngacak-ngacak sepiteng lagi” sekarang wajahnya berubah licik.
“Gua gak percaya ah! itu cuman akal-akalan lu.” Protes saya, sebagai penggemarnya saya harus membela.
Mulai dari malam itu, anak-anak kecuali saya percaya sekarang Omen punya kelainan. Sebagai teman yang baik, kami gak berusaha jaga jarak dan jijik kalau ketemu dia. Dan sebagai penggemarnya, saya suka kasih tabloid khusus kesehatan dan kebersihan lingkungan, meskipun Omen gak pernah baca tabloidnya dan gak ngerti maksudnya, tapi saya selalu paksa dia buat baca!
Beberapa hari itu Omen selalu murung. Kerjaannya cuman ngelus-elusin kepala anjing peliharaannya sebelum dan setelah berangkat kerja. Ia terlihat begitu lemas dan lesu tak bersemangat, beberapa hari itu pula Omen gak pernah bicara sama siapapun di antara kami, teman-temannya. Yang saya takutin, Omen marah sama kami karena udah gossipin dia dari belakang secara sembunyi-sembunyi. Apa mungkin dia sakit hati? Seinget saya, dia gak pernah marah kalau cuman persoalan gini doang. Malah waktu Omen di gossipin punya hubungan sama anjingnya dia malah cuek dan cuman bilang, “No comment”. Padahal dia sendiri gak tahu apa artinya, katanya sih ngikutin aktris-aktris yang bilang no comment di acara gossip di televisi, biar kelihatan keren (Omen optimis berpikir kalau dia aktris). Di gossipin temen-temen adalah kebanggaan buatnya. Tanda ke-exis-an.
Terus apa sebenernya yang membuat Omen murung? Akhirnya setelah saya baca komik Detektif Konan, saya memberanikan diri untuk menyelidiki kasus itu. Tapi masalahnya saya gak pernah punya jubah dan topi yang bisa di bolak-balik depan-belakang! Sial!
Lalu…
“Mamah, lihat ada Superman cewek!”
“Kalau perempuan namanya bukan Superman nak, harusnya Superwoman… Hus! sanah pergi! Jangan ganggu anak saya, dasar orang gila!” ibu itu ngusir seorang cewek yang pake sepatu boot, celana pendek, kaos lengan panjang, topi jerami, ikat kepala khas pejuang kemerdekaan, topeng berbulu khusus buat bagian mata, dan sarung yang diikat ke leher (ceritanya itu jubah).
“Saya bukan Superwoman bu! saya detektif, gimana sih.. masa sekeren gini di sebut orang gila pula!”
Lalu saya pergi boseh sepeda nunggu Omen di tempat kerjanya. Kali aja disini ada petunjuk. Dan akhirnya setelah beberapa jam sembunyi di semak-semak, Omen keluar. Dari langkahnya, gak ada yang mencurigakan. Seperti biasa dia jalan ke arah jalan raya dan nunggu angkot buat pulang ke rumah Udeng. Begitu angkot lewat, Omen langsung naik. Bodohnya, saya lupa kenapa saya bawa sepeda, mana bisa kejar angkot pakai sepeda? Ah sial!!
Saya gak menyerah, dengan bersusah payah kaki ini terus memboseh. Sampai-sampai topi jerami yang saya curi dari rumah pengemis terbang. Tapi gak membuat kaki ini berhenti memboseh! terus, terus dan terus memboseh. Padahal waktu itu saya baru sembuh dari encok setelah beberapa kali ikut kelas terapi pijat Mak Enok. Itu lho, yang suka bilang “tingali tah!” sambil memamerkan perhiasan di tangannya, suka muncul di acara salah satu televisi yang banyak sinetronnya. (Sinetron = si miskin ketemu si kaya, jatuh cinta, gak di restuin, di penjara, eh ternyata si miskin kaya dan si kaya miskin, baru deh di restuin, masuk rumah sakit, di penjara lagi, makan malam, married, punya anak, anaknya ketuker, sakit lagi, dan gitu seterusnya!)
Lalu saya melewati taman, dan kehilangan jejak Omen. Ah tidak!
“Mah lihat, Superman cewek tadi ada lagi. Kok malah bawa sepeda, kan harusnya terbang?”
“Itu orang gila sayang, ayo ah pulang..” ibu itu cepet-cepet gendong dan bawa masuk anaknya ke mobil lalu pergi.
Yah.. meski disebut Superman gila untuk saat itu saya gak peduli. Yang penting adalah jejak Omen.
Akhirnya keajaiban datang! sepeda saya maju secepat kilat menyusul kendaraan lain yang ada di depan. Orang-orang begitu takjub dan terpana melihat saya. Jubah (sarung) ini berkibar dengan gagahnya di angkasa malam, mata saya picingkan tegas ke depan, “Tunggu gua Men.” Rasanya, saya memang cocok jadi detektif. Lalu tiba-tiba..
“Woy! Ngapain lu di belakang mobil? Saya mau angkut sayuran tau! sono turun-turun!”
Akhirnya lagi, keajaiban itu hilang sekejap. Mobil L300 itu pergi dan saya harus boseh lagi sepedanya. Tapi beruntung, ini sudah dekat dengan rumah Udeng. Dari kejauhan saya lihat Omen lagi ngobrol di depan warteg dengan seseorang. Dan saya hanya bisa mengawasinya dari jauh di seberang jalan. Seperti cara sembunyi tadi di tempat kerja Omen, saya memilih semak-semak lagi sebagai lokasi persembunyian dan pengintaian. Lalu tak jauh dari situ Omen pergi sendiri ke pekarangan rumah tetangga yang di ceritain Udeng waktu malam jumat kliwon itu.
Tapi malam begitu larut, saya terbawa suasana oleh posisi yang nyaman. Di tambah lagi Omen yang masih diam berdiri sendiri di belakang rumah itu hingga membuat saya bosan melihatnya dan, zzzZZzz… ( Sorry gak ngiler).
“Neng, bangun neng.. kenapa tidur di semak-semak?”
Saya tersentak dari mimpi melihat Omen makan tinja, di mimpi tadi mau muntah, tapi gak jadi gara-gara ada suara orang manggil-manggil. Segera saya masuk ke alam sadar dan ngucek-ngucek mata. Gak lupa nguap, “Huuaaii”.Terus yang bangunin saya tutup hidung.
“Buset dah bau amat neng”
“Nong nang nong neng!! nama gua bukan neng!”
“Eh bego lu Mil? Ngapain tidur di sini, mana pakean kayak orang gila lagi? Wah ini kan sarung gua!”
“Hehehe”
Lalu saya yang ketiduran dan Udeng yang pulang abis kencan balik ke markas (rumah Udeng). Berhubung ini udah jam 2 dini hari, kami cuma bisa berharap Omen yang ada di markas bisa di bangunin buat bukain pintu.
Tok tok tok tok tok tok, “Men, buka pintu!”
Tok tok tok!! dukg dukk! tok tok!!!
“Men bukaaa…!!”
Terus setelah beberapa kali ketok ketok pintu dan jendela, suara langkah kaki terdengar dari dalam. “Nah, pasti Omen!” sahut saya.
Ckklkk..
Berdiri seorang laki-laki dengan wajah garang, rambut kusut tanpa arah, jalannya sempoyongan, dan matanya merah!
“Men lu mabok ya?”
Omen gak menjawab sepatah kata pun, ia malah melotot melihat kami berdua dengan mata merahnya dan posisi berdiri miring kayak iklan Mizone.
“Woy? Wah bener nih Deng, si Omen mabok”
Omen kayaknya gak denger apa yang kami omongin. Dia malah asyik ngucek-ngucek matanya yang merah. Terus Omen nyengir dan, “APAAN TUH?”
Di sela-sela giginya banyak benda warna kuning nempel! ih, apaan coba? Dan pas dia nguap di depan muka kami,
“HHUAAIIAHH!!”
HAH! bau banget, kayak bau sepiteng.
“Wah bener-bener nih anak, beneran dia mabok Mil!” ungkap Udeng.
“Mabok apaan? Nyampe bau sepiteng kayak gini?”
“Ya berarti mabok tai. Tuh lihat giginya pada kuning, matanya merah, jalan sempoyongan gitu, nafasnya bau sepiteng. Ya mabok apalagi kalau bukan mabok tai?”
(Padahal abis makan opor ayam kuning di warteg tadi, tidur gak gosok gigi. Mata merah dan jalan sempoyongan karena masih linglung baru bangun tidur. Kalau masalah nafas bau sepiteng gak tau ya.. udah bawaan kali.)
Terakhir saya lihat Omen Meen emang dia lagi ada di belakang rumah tetangga itu, yang kata Udeng suka di acak-acak sepitengnya sama Omen. Yah, berarti bener kalau Omen punya kelainan yang akut.
Mulai dari malam itulah akhirnya saya percaya kalau Omen doyan tinja.. Omen Omen, sungguh malang nasib mu..
Read More ->>

My First Love In The Rain

Asik, hujaaannn!!!” Seru Caca setelah membuka tirai jendela kamarnya.
“Terimakasih!!” kata Caca lagi sambil mencium boneka Teru Teru Bozu nya yang digantung di sisi jendela namun dalam keadaan terbalik.
Boneka Teru teru bozu adalah boneka tradisional jepang buatan tangan yang konon katanya boneka ini adalah boneka penangkal hujan. Namun Caca sengaja menggantungkan bonekanya terbalik karena dia berharap hujan esok hari. Cara ini dia dapat dari buku komik yang suka dia baca.
“Hujannya gak terlalu deras.. cukup bawa payung” kata Caca sambil mengambil payungnya dan berangkat sekolah
Karena hari ini hujan, dia berangkat ke sekolah naik bis. Biasanya dia naik tukang ojek langganannya. Setelah duduk di kursi penumpang, Caca menolah ke kanan kirinya seperti mencari seseorang. Senyumnya kembali mengembang ketika dia menemukan seseorang yang dicarinya.
Seorang anak laki-laki memakai seragam SMA yg ditutupi jaket sedang duduk satu kursi di depannya sambil menatap keluar jendela. Dialah alasan mengapa Caca selalu mengharapkan hujan di pagi hari. Dia akan bertemu laki-laki ini di bis. Caca pernah di beri tempat duduk oleh laki-laki itu di tengah bis yang penuh dengan penumpang karena hujan yang sangat deras. Sejak saat itu dia selalu menanti hujan dan ingin selalu bertemu laki-laki itu. Ada rasa bahagia tersendiri baginya.
Sepanjang perjalanan Caca terus memandangi laki-laki itu ingin rasanya dia duduk di kursi kosong di sebelahnya dan mengajaknya bicara. Setidaknya menanyakan siapa namanya. Namun dia tidak mempunyai cukup keberanian. Apalagi Caca masih berseragam SMP dan umurnya juga lebih muda dari siswa SMP lainnya, karena Caca mengikuti program akselerasi sewaktu SD dan kini pun dia juga berhasil masuk kelas akselerasi. Alhasil di umurnya yang masih 16 tahun nanti caca sudah lulus SMA.
Bus pun berhenti di sebuah halte, laki-laki itu dan beberapa penumpang lain turun, tak jauh dari situ ada SMA negeri.
Caca terus mengarahkan pandangannya kepada laki-laki itu.
“oh sekolahnya di situ..” gumam Caca
“semoga besok hujan lagi” kata Caca dalam hati sambil tersenyum

“gak kerasa ya sebentar lagi SMA..” kata Mama Caca di tengah makan malam
“Iya lah ma.. Caca kan sekolahnya cuma dua tahun, makanya kerasa cepat” jawab Caca setelah menelan makanan di mulutnya.
“Caca, inget ya.. Mama sama Papa gak maksain kamu untuk ikut akselerasi.. Jadi Caca belajarnya jangan terlalu dipaksa” Kata papa Caca
“iihhh iya pah, mah.. Caca santai aja kok belajarnya, Anak papah sama mamah ini emang dari sananya pinter” Jawab Caca dengn wajah lugunya yang membuat kedua orangtuanya tersenyum
“iya.. selain pinter belajarnya juga pinter main game sampai tengah malem.. Persis kayak Papahnya dulu” cetus mama
“ish mama..” protes Caca
“iya iya.. anak papa deh~ Caca nanti kalo SMA nya di luar kota mau ya?”
“hah?” Kata Caca yang melongo menatap ayahnya karena tidak percaya dengan apa yang dia dengar tadi
“iya, Papah di tempatkan di Kalimantan.. Kita akan pindah ke sana, Tapi Papah minta di undur sampai Caca lulus dan bisa sekalian langsung daftar sekolah di sana” kata papah yang menjelaskan maksudnya.
Caca terdiam.. dia teringat pada laki-laki di bus yg menjadi semangatnya. Dia tidak akan melihatnya lagi.
“Caca gak papa kan?” Tanya mama Caca yang memperhatikan Caca yang termenung
“ah gak apa ma” jawab Caca sambil tersenyum
Caca duduk termenung di tepi tempat tidurnya, dia terus memikirkan lelaki di bus yang menjadi semangatnya. Laki-laki yang terus ada di pikirannya, namun dia tak pernah mempunyai keberanian untuk menyapanya, apalagi menanyakan namanya.
Sebentar lagi Caca pindah dari sini, itu berarti dia tidak lagi bertemu laki-laki itu di bus di hari hujan, dia tidak lagi menggantung boneka teru teru bozu secara terbalik di tepi jendela, dia tidak lagi mengharap hujan, dia tidak lagi menatapi laki-laki itu di bis sambil senyum-senyum sendiri. Bagaimana hidupnya nanti tanpa semua itu? Bagaimana bisa dia bersemangat seperti biasanya lagi. Padahal ini kali pertamanya dia merasakan perasaan seperti ini kepada laki-laki. Perasaan yang membuat nafasnya sesak.
“Ya tuhan, aku ingin bertemu dia sekaliii saja.. minimal aku tau namanya..” kata Caca sambil membuat boneka teru teru bozu labih banyak dari biasanya.
Pagi hari yang cerah biasanya membuat orang-orang bersemangat memulai aktivitasnya, namun tidak untuk Caca, hari cerah di pagi hari beberapa minggu terakhir ini membuatnya resah. Hari dimana dia akan pindah semakin dekat. Dia takut jika dia tidak bisa bertemu laki-laki itu lagi dan cinta pertamanya berakhir begitu saja. Teru Teru Bozu yang dia buat terus di gantungnya di tepi jendela dan terus bertambah jumlahnya. Namun sepertinya tidak berhasil.
Ujian sudah selesai, Hujan juga tak kunjung datang. Beberapa hari lagi Caca akan pindah. Dia berencana akan mencari laki-laki itu di depan SMA nya. Walaupun cerita cinta pertamanya akan berakhir tapi dia akan mengakhirinya dengan cara yang dia inginkan. Kebetulan Caca pulang cepat karena pasca ujian. Di depan gerbang SMA Negeri itu Caca berdiri sambil melihat satu persatu wajah siswa yang keluar masuk sekolah. Berharap seseorang yang dia pikirkan itu berjalan keluar sekolah.
Hari semakin siang, Cuaca makin panas, sudah dua jam Caca berdiri di situ namun dia tak mau menyerah.
“Adek nyari siapa? Dari tadi berdiri di sini” tegur seorang satpam
“Saya nunggu kakak saya pak” jawab Caca dengan sedikit berbohong.
Tak lama ada siswa yang keluar dari sekolah itu sambil mengendarai motor besar tanpa menggunakan helm. Dia laki-laki yang di cari Caca.
“kakaaak” panggil caca sambil mengejar motor berwarna merah
Mendengar ada yg memanggilnya, laki-laki itu pun menepi. Dan Caca berlari menghampirinya.
“Siapa ya?”
“Maaf kak.. saya yang dulu pernah kakak kasih tempat duduk di bis..” kata Caca yang masih mengatur nafasnya.
Laki-laki itu terdiam sebentar..
“ah iya.. ingat. Kenapa ya?”
“saya ingin memberi ini..” kata Caca sambil mengeluarkan sebuah kotak dari tasnya dan memberikannya. Laki-laki itu menerimanya tapi masih terdiam karena tidak mengerti.
“Nama kakak siapa?” Tanya Caca
“Yoga. Ini apa?” Jawab laki-laki itu sambil membuka kotak yang isinya tiga buah boneka Teru Teru Bozu.
“Kak Yoga.. Caca minta maaf karena tiba-tiba ngasih ini. Kak terimakasih, karena sudah jadi semangat buat Caca”
“maksudnya?” Yoga semakin tidak mengerti
“Semenjak kita ketemu di bis hari itu, Caca selalu kepikiran kakak. Selama ini Caca menggantung terbalik teru teru bozu di kamar Caca agar selalu hujan di pagi hari. Karena kalau hujan, Caca bisa ketemu kakak di bis. Rasanya ada yang berbeda kalau Caca liatin kakak. Tapi sebentar lagi Caca mau SMA ke Kalimantan, itu berarti Caca nda ketemu kakak lagi. Caca nyari kakak Cuma buat bilang ini aja kok.. Maaf ya kak. Setelah hari ini Caca nda akan lagi menggantung terbalik Teru Teru Bozu”
Yoga tersenyum setelah mendengar kata-kata Caca yang polos.
“Nda usah minta maaf.. iya iya Makasih juga ya dek..? Kamu akselerasi ya?” Tanya Yoga
“iya, kok tau kak..”
“Pantes, masih lugu” jawab yoga sambil mengelus kepala Caca
“Oke ini Aku simpan. Makasih ya?” kata Yoga lagi sambil tersenyum kemudian pergi dengan motornya.
Ada perasaan lega di hati Caca setelah bicara pada Yoga. Biarpun nantinya Dia tidak akan bertemu lagi, yang penting cerita cinta pertamanya tidak berakhir menyedihkan.

“Caca, nanti kalau di terima telpon mama lagi ya?” kata mama Caca dari telpon
“iya mama, pengumumannya nanti siang” Jawab Caca
“Kalau sudah langsung balik ke kos ya? Jangan kemana mana ya?” kata mamanya lagi
“iya mama..”
“Makannya jangan lupa ya Caca! Jangan sampai telat!” Kata mamanya lagi.
“Iya iya mamaku tersayang.. Caca baru dua hari loh~ di sini” jawab caca
“hehe.. iya deh bye sayang”
“bye maa”
Caca mematikan telfonnya. Dan kembali duduk menanti pengumuman penerimaan Mahasiswa baru. Setelah 3 tahun SMA di Kalimantan kini Caca kembali untuk kuliah di Universitas dekat dengan SMP nya dulu.
Cuaca yang mendung dan dingin membuat Caca ingin ke toilet, dia pun berkeliling mencari toilet. Akhirnya Caca menemukan toilet setelah bertanya kepada beberapa kakak tingkat di situ. Setelah dari toilet, Caca melewati lorong yang banyak loker di pinggir nya. Loker khusus Mahasiswa semester akhir. Di ujung loker ada dua mahasiswa yang sedang berbincang di depan sebuah loker yang terbuka.
Tak sengaja Caca mendengar pembicaraan mereka
“Bray, sebelum gue ninggalin lo yang belum lulus nih, gue mau nya” kata cowok yang memakai kaos biru tua.
“Gaya lo! Apaan ?” Tanya cowok yang memakai kaos warna hitam
“Dari dulu gua penasaran, ntu boneka putih aneh jelek lo cantol mulu di loker! boneka apaan sih! Lo gantung terbalik lagi Ngeri tau! kayak pocong!” Tanya cowok baju biru tua sambil mengambil boneka putih yang selalu menggantung di balik pintu loker.
“Aahahahhaa.. ceritanya dulu ada anak SMP suka gantung tuh boneka terbalik.. supaya hujan”
“Lah terus hubungannya sama lo apaan? Lo tukang jual boneka?”
“Kalo hujan, si cewek itu bisa ketemu gue di bis.. Terus liatin gue gitu. Padahal dulu gue kesel banget kalau hujan pagi-pagi, soalnya nyokap gue larang gue bawa motor kalau hujan. Bete banget kan?. Nah, pas si cewek itu mau pindah.. dia nyamperin gue terus ngasi boneka itu. Terus dia ceritain dah perasaannya ke gue. Dan semenjak itu bray.. Gue jadi ikutan seneng kalau ada hujan. Jadi gue terusin kebiasaannya”
Cerita si cowok yang pakai baju hitam itu
Caca terhenti langkahnya karena mengenali cerita itu.
“Lah terus Yo.. gimana kabar tuh cewek? Nama bonekanya apa sih? Anak pocong?”
“Gak tau.. Sampai sekarang juga gue gak tau nih boneka apa namanya. Siniin bonekanya!! Gue seneng banget tuh sama itu boneka”
Jawab si cowok baju hitam sambil merebut boneka yang ada di tangan temannya, tapi Boneka itu malah jatuh sampai kedepan Caca. Caca pun menunduk dan memungutnya.
“Ini namanya Teru Teru Bozu, orang Jepang menganggap ini boneka penangkal hujan”
Kata Caca sambil berjalan menghampiri kedua laki-laki itu kemudian memberikan boneka yang di pungutnya.
Cowok baju hitam itu masih terdiam karena tidak percaya dengan matanya sendiri.
“Kak Yoga?” Kata Caca yang heran melihat Yoga yang melihatnya tanpa berkedip.
“Eh iya.. Ini kamu kan?” Tanya Yoga yang terbata-bata melihat Caca yang dulu lugu, polos dan anak-anak banget kini tumbuh menjadi gadis cantik.
“Iya kak.. Ini Caca. Ini bonekanya. Makasi ya masi di simpen bonekanya”
Jawab Caca sambil memberikan boneka pemberiannya dulu.
“Thank’s God..” Gumam Yoga
“Hmm?”
“Eh nda.. Bray, nih cewek yang gua ceritain tadi..” Bisik Yoga ke temennya
“Bening bray…” Gumam teman Yoga
“Kalian bicarain apa sih?”
“Enggak gak ada kok.. hehehe” Jawab Yoga dan temannya bersamaan yang salah tingkah.
Tiba-tiba hujan turun tidak deras namun mampu memecahkan suasana canggung di antara mereka berdua.
“Hujan kak..” Kata Caca sambil menoleh ke arah luar
“Iya.. Menyambut kedatanganmu..”
“Semoga lebih sering hujan ya kak?”
“Biar gak hujan pun, kita bakal ketemu terus kok..”
Jawab Yoga sambil tersenyum kearah Caca, kemudian di balas dengan senyuman juga oleh Caca.
Sekian
Cerpen Karangan: Rika Ardina
Read More ->>

wishes

Pagi itu, pagi yang cerah. Tiap detik dan menit rasanya tak terasa. Juga, tak ada yang menyangka apa yang akan terjadi pada hari yang secerah ini? Entalah…
Tak terasa sekitar 7 bulan ini Deidara terbaring lemah di rumah sakit karena penyakitnya tak kunjung sembuh dari bulan-bulan yang lalu. Ia hanya bisa pasrah dalam hidupnya, bahkan ia menganggap dirinya ini sudah tak berguna, tak berarti sama sekali bagi siapapun yang ia anggap berarti baginya. Itu pun hidupnya mungkin tak lama lagi.
“hh~” lagi lagi ia hanya dapat menghela nafas. Ya, hanya bisa menghela nafas sambil terbaring di kasur ini. Mata Zircon mengkilatnya menatap awan biru cerah dari balik jendela kaca, angin menghampirinya membuat helaian pirang bagian poni nya berderai mengikuti gerakan angin. Membelai wajahnya dengan lembut, ini… desiran angin itu bagai berbisik padanya ini yang di ucapkan angin angin itu pada ku
“jangan biarkan waktu yang tersisa ini, kau buang sia sia”
Tentu Deidara tidak ingin membuang waktunya, tapi penyakit ini yang menghalanginya untuk melakukan segala yang ia inginkan.
Deidara sangat ingin kembali pulang, pulang melihat rumahnya, membantu Okaa nya memasak, berteman, jajan sepuasnya dan sebagainya. persis seperti sebelum ia dilarikan ke rumah sakit dulu. Dokter pun tak tau penyakit apa yang mengidap di tubuh Deidara dulu sampai saat ini.
Dulu ia punya impian menjadi seorang pelukis yang handal dan terbaik yang pernah ada, tapi sekarag ia berubah haluan. Impiannya kini ‘ingin kembali pulang’ ke rumahnya. tak penting baginya impiannya dulu itu, karena ia berpikir impian lamanya itu kalah dibanding ia bisa bebas, pulang ke rumah, jalan jalan dan beraktivitas menyenangkan lainnya
“aku… ingin pulang, piyo~” gumamnya.
Krieeet- pintu kamarnya terbuka, datanglah sosok Ibu yang nampak senang ketika melihat Deidara baik baik saja.
Shion, Ibu Deidara menghampiri putra kesayangannya itu sambil tersenyum “Dei-chan. Bagaimana hari mu sayang? Kau baik? Tak apa apa kan?” sederet pertanyaannya meluncur, tanpa memperhatikan raut wajah Deidara yang sedang bermimpi tentang keinginannya untuk pulang.
“ya, aku baik, pyo. Sebaiknya Okaa-chan tak perlu cemas, pyo”
Shion terkekeh “tentu Okaa-chan mencemaskan mu. Kau kan satu-satunya yang Okaa-chan punya, karena lelaki brengsek itu meninggalkan kita, hingga tinggal kita berdua” di akhir kalimatnya nampak nada Shion ingin marah, bukan pada Deidara. Tapi pada lelaki yang telah meninggalkannya bersama Deidara.
“khihihi” Deidara hanya dapat tertawa kecil saat Okaa nya mencak mencak sendiri.
-kriiiet- pintu kembali terbuka, terlihat pemuda tampan idola para gadis di Senior High School masuk dengan tergesa gesa, terlihat saja dari baju seragamnya yang sudah tak rapi lagi
Terlihat lega wajahnya ketika sesudah melihat kondisi pemuda blonde “a! Maaf Dei, aku telat ya?” ujarnya sembari menumpukan tangannya di pinggiran ranjang.
“kheheh, aku baik baik saja, pyo~”
“kau suka sekali membuat ku cemas”
“tak hanya kau Sasori-kun, aku juga selalu di buatnya cemas” sahut Okaa-chan.
Sasori pun mengacak rambut blonde itu dengan gemas “jangan di ulang lagi ya!”
“um” Deidara mengangguk
“oh, ya. Kenapa kau meneleponku? Tadi saat kau telepon aku sedang di perjalanan” kata Sasori menjelaskan, takut ada kesalah pahaman.
Senyum manis terbentuk di bibir pemuda manis itu “aku mengerti, pyo~. Aku yang salah, selalu merepotkan mu, pyo~”
“tak masalah” jawab Sasori ikut tersenyum
karena takut merusak suasana di antara dua pasang remaja ini, Shion ingin beranjak pergi “karena sudah ada Sasori-kun, Okaa-chan pergi dulu ya?”
“e’eh! Okaa-chan jangan pulang dulu, ada yang aku inginkan dan semuanya tergantung dari Okaa-chan”
Shion kembali duduk, Sasori masih tetap berada di samping tempat tidur pemuda honey blonde itu.
“mm… Okaa-chan, pyo~ aku…”
“hm?”
“aku… aku ingin jalan jalan, pyo~”
[keinginan pertama, aku ingin Jalan jalan, pyo~. Tentunya dengan orang yang kusukai. Sayangnya aku...]
Pernyataan itu membuat Shion tersentak “apa?! Jalan jalan? Tidak, tidak Deidara, Okaa-chan melarang mu.” Lalu berdiri menghampiri putra semata wayangnya itu.
Deidara menggenggam tangan Sasori yang tadi bertumpu pada ranjangnya “ku mohon Okaa-chan, aku sangat ingin jalan jalan, pyo~ apa lagi sudah 7 bulan disini. Mencium bau obat obatan yang tak menyenangkan, berbaring menatap langit langit putih, pyo~. Itu sangat tidak menyenangkan, Okaa-chan. Tidak menyenangkan!”
Untuk yang pertama kalinya Deidara membentak Okaa-chan nya, wajah Shion pun berubah ia terlihat termenung dengan ucapan ucapan Deidara, ia akhirnya sadar bahwa anaknya tersiksa, bosan, dan tak betah. Ia baru menyadari itu setelah Deidara bicara panjang lebar.
“Okaa-chan tau.”
“ya, Okaa-chan tau. Tapi kenapa sekarang Okaa-chan tidak mengijinkan ku? Pyo~”
“itu karena Okaa-chan tidak mau kehilangan mu!” sahut Shion setetes air mata nampak ingin jatuh.
“percuma! Lama kelamaan pun… aku akan pergi juga, pyo~. Bukankah aku telah di vonis hanya hidup sekitar 2 atau 3 bulan saja? Pyo~”
Sasori dan Shion tersentak mendengarnya. Sebuah kejutan yang benar benar mengejutkan, sayangnya kejutan yang menyedihkan.
“apa itu benar?!” Sasori langsung bertanya pada Deidara dengan wajah hampir pucat.
“tentu! Aku tau itu, aku mendengarnya saat Okaa-chan di beri tahu oleh Dokter Itachi, pyo. Mereka kira aku tidur, tapi aku sebenarnya aku tidak tidur. Setiap malam aku selalu menangis, sendiri, pyo” begitu miris mendengarnya.
Saat itu juga Shion mengalirkan bulir bulir air mata yang di tahannya “untuk itu lah, untuk itulah Okaa-chan menggunakan waktu untuk mu sebaik baiknya. Supaya Okaa-chan bisa bersama mu, tak apa sebentar, setidaknya—”
“Okaa-chan, tidakkah itu egois? Pyo~”
Wanita paruh baya itu berhenti mengusap air matanya, ia tertegun, begitupun sosok pemuda baby face. Ia juga tertegun saat mengetahui penderitaan orang yang dikasihinya. Dikiranya enak diam, baringan dan hanya dilayani, ternyata saat mengetahui nya, itu sangat menyiksa.
“…” Shion terlihat berpikir
Sasori pun akhirnya tau siapa yang patut di bela “Shion-san, aku juga memohon.”
Shion menjatuhkan dirinya ke kursi dengan wajah berkecamuk
Deidara pun prihatin, apa ia terlalu kasar? Pikirnya “maaf kan aku Okaa-chan, tak sepantasnya aku bicara kasar begitu, pyo~” sesal nya.
Tiba tiba Okaa-chan tersenyum menatap Deidara “tidak apa apa. Kau benar Okaa-chan memang egois, pantas lelaki itu meninggalkan ku”
Lagi lagi lelaki itu, Deidara mencoba untuk duduk dengan bantuan Sasori “Okaa-chan, bukannya sudah berjanji untuk tidak mengingat lelaki itu, pyo~ sebenarnya bukan Okaa-chan yang egois, tetapi lelaki itu lah yang bodoh, sudah meninggalkan Okaa-chan terbaik yang pernah ada. Huh, betapa bodohnya lelaki itu.”
- Sasori POV [ON]
Deidara mencoba untuk duduk dengan bantuan ku lalu ia bicara pada Okaa-channya “Okaa-chan, bukannya sudah berjanji untuk tidak mengingat lelaki itu, pyo~ sebenarnya bukan Okaa-chan yang egois, tetapi lelaki itu lah yang bodoh, sudah meninggalkan Okaa-chan terbaik yang pernah ada. Huh, betapa bodohnya lelaki itu.”
Selagi ia menyelesaikan masalahnya pada Okaa nya. aku teringat Okaa dan Otou–san ku. Kenangan yang begitu pahit. Aku sangat mengerti mengapa Shion-san melarangnya untuk jalan jalan, tentu saja untuk kebaikan Deidara juga. Sayangnya orang seperti Deidara belum mengerti perasaan orang tuanya. Aku ingin membela Shion-san. Tapi begitu mendengar berbagai penderitaan yang tadi dilontarkan Deidara membuatku sadar, bahwa disini ia yang paling menderita. Dan itulah yang membuatku ikut membela nya.
Seandainya ia diperbolehkan untuk jalan jalan, aku yang bersedia menjadi pelindungnya. Apapun yang terjadi, aku akan jadi tameng pelindung untuknya dan untuk Okaa nya yang telah mempercayaiku untuk menjaganya.
-Sasori POV [OFF]
“Okaa-chan akan memperbolehkan mu” itulah keputusan yang diambil oleh Shion-san.
“benarkah? Pyo~” raut wajah Deidara bercahaya.
Okaa nya mengangguk “tapi sebelumnya, periksa dulu kesehatan mu”
“um” Deidara mengangguk sebagai jawaban
“biar aku yang memanggil dokternya” Sasori melepas pelan genggamannya, tapi dicegah tangan Deidara.
“disini saja, pyo~” pintanya seperti anak TK.
“aku sebentar saja, ya? Aku kembali lagi kok” ujar Sasori meyakinkan Deidara.
“bagaimana kalau Okaa saja?” tawar Okaa-chan.
“tidak, anda sebaiknya tunggu disini bersama Dei-chan saja, biar aku yang memanggil Dokternya.” Lalu setelah berhasil melepas genggaman Deidara, Sasori pergi sedikit berlari keluar. Baju seragamnya berkibar kibar, dasinya pun kendor, rambut acak acakan. Sungguh seorang idola yang benar benar idola.
“selain keren, Sasori-kun juga baik hati. Seseorang yang sangat ku restui jika menjadi menantu ku” Shion, sedikitnya menggoda Deidara.
Yah, begitulah kalau mempunyai seorang Okaa yang muda, umur Shion masih 23 tahun. Suka menggoda anaknya layak seorang anak itu adalah temannya.
“Okaa-chan! Pyo~” pekik Dei sembari menutup wajahnya dengan selimut sampai sebatas hidung.
- Sasori POV [ON]
Aku berlari mencari Dokter, entah kenapa aku pun bersemangat mendengar Deidara diperbolehkan jalan jalan, setidaknya aku bisa berdua dengannya sejak terakhir kalinya di sekolah ia mengajak aku makan bareng dilanjutkan dengan keliling sekolah, hingga rela bolos karena ia ingin mampir ke acara pameran seni.
Ya ampun, pakaian seragam sekolah ku sudah berantakan, dasi kendor, rambut acak acakan, apa aku terlihat jelek di mata Orang tua Deidara yang ku cintai? Hah! Pasti jelek, aku memang tak bisa berpakaian rapi. Tapi nanti ku pastikan saat masuk lagi baju ku akan rapi.
Entah apa perjalanan kali ini sama atau berbeda denga Deidara 7 bulan lalu? Aku tetap menerimanya setidaknya ada sesuatu…
Oh, itu dia Dokternya, begitu aku menemui Dokter dan langsung membawanya ketempat Deidara berada.
“Deidara baik baik saja. Tapi, Sasori kun pastikan ia jangan banyak bergerak, jalan kaki itu pun bisa membuatnya lelah” ujar Dokter menasehati.
Sasori dan Deidara mengangguk mengerti. Dengan begitu mereka pun memulai jalan jalan
“Dei, Okaa-chan harap kau baik di jalan, jangan merepotkan, dan kalau kata Sasori-kun tidak boleh, ya tidak boleh” pesan Shion pada mereka sebelum mereka pergi.
“merepotkan pun, tak apa apa” ujar Sasori jujur.
“ah, kau memang baik Sasori kun” puji Shion “nah, kalian boleh pergi kok, hati hati ya!”
“ya! Pyo~” sahut Dei semangat dan langsung berlari menjauh dari taman rumah sakit menuju luar. karena khawatir, Sasori pun menyusulnya pula.
Shion hanya menghela nafas maklum “Kami-sama. Semoga mereka baik baik saja.”
- Deidara POV [ON]
Oh, Kami sama! Aku berterima kasih pada mu! Pyo~ Teriak ku. Lalu ku dengar ada yang mengejarku, siapa?
“Dei!, Jangan lari lari! Nanti kau cepat lelah!” teriaknya sembari mendekati ku.
Hihi~ entah kenapa aku tertawa kecil melihat Sasori begitu. Setelah ia sudah ada di samping ku, aku pun menggenggam tangannya untuk jalan bersama.
Baru saja aku berbalik, terlihat sebuah kedai Ice Cream, dan itu menggodaku untuk menikmatinya. Lagipula aku kangen rasanya, bayangkan 7 bulan hanya makan infus, tidak enak tau! Pyo~.
“Sasori danna stupid, bodoh no baka! Pyo~ aku mau makan es krim. Boleh ya? Pyo~” pinta ku padanya. Mengingat keputusan untuk sekarang tergantung dari Sasori.
[keinginan kedua, aku ingin makan Ice Cream rasa kesukaan ku, Pisang. Juga melihatnya menikmati Ice Cream Mint kesukaanya. Pyo~]
Tentu sudah tau jawaban Sasori “tidak boleh, nanti kau sakit lagi. Jangan membuat orang khawatir dengan kesehatan mu!”
Setelah aku membujuknya berpuluh puluh kali, akhirnya Sasori danna memperbolehkan juga, meski kulihat ia berat hati. Pyo~.
- Deidara POV [OFF]
Kini mereka berdua sudah masuk dalam kedai itu, lalu Sasori bertanya “kau mau rasa apa?”
Deidara terlihat berpikir sejenak “rasa Sasori ada? Pyo~”
“mana ada, baka!” Sasori menjitak pelan kepala honey blonde itu.
“khehehe… bercanda pyo~. Aku mau rasa—”
“pisang kan?”
“tidak! Aku sudah pindah rasa, suka rasa Jeruk! Pyo~”
Sasori memutar bola matanya, memang sulit. Deidara ini tak mau kalah.
“che?”
“ia, entah kenapa aku jadi suka jeruk, pyo~. Kalau Sasori no danna? Pyo~?”
“…Mi—”
“Mint kan? Pyo~”
“tidak, aku sudah pindah rasa, jadi suka rasa Deidara”
“chee?! Mana ada, baka! Pyo~” Deidara menjitak balas Sasori
Lalu Sasori tertewa kecil berhasil membuat Deidara kesal, sama seperti ia kesal di buat Deidara sendiri.
“pesan apa ya?” sang waitress mengganggu suasana
“Pisang, pyo~!” Deidara sangat antusias.
“bohong, dia pesan rasa jeruk!” ujar Sasori membuat sang waitress mengganti catatannya. Dan membuat Deidara kesal.
“kalau anda?”
“Mint”
“tidak! Dia bohong, tadi dia mau pesan rasa Deidara, pyo~”
Dengan bodohnya juga sang waitress mengubah pesanan Sasori menjadi Ice Cream rasa Deidara. Yang notebane tak ada, kecuali langsung ke orangnya. Ehmm~ jadi ke ‘M’ nih. Gak deh, masih ‘T’.
“Mint! Aku tak pernah pesan es krim rasa Deidara” sanggah Sasori.
“Pisang! Aku juga tak pernah memesan es krim rasa Jeruk, pyo~”
“baiklah, saya sudah pusing, jadi pesanannya akan datang sekarang juga” tanpa basa basi Waitress itu pergi menjauh
“oh, ya. Traktir ya? Pyo~” wajah Deidara nampak memelas
Sigh “ya ya ya ya ya”
Jawaban yang mantab, Deidara nyegir dengan lebarnya.
Dan mereka memakan es krim rasa kesukaan masing masing di pagi menjelang siang itu.
“puas?” tanya Sasori pada Deidara di sampingnya saat ini.
“iya Danna, pyo~” jawab Deidara senang.
“sekarang kita kemana?”
“jalan kesana! Sepertinya mengasikan, pyo~” lagi lagi Deidara berlari tak sabaran.
Sasori pun secepatnya mengejar dan langsung menggaet jemari Deidara “jalan harus bareng aku, biar tidak celaka!”
Ia kalau didengar, ini diabaikan oleh Deidara begitu saja dia langsung menarik Sasori menuju tempat selanjutnya
“pyo~ pyo~. Sasori no danna stupid bodoh no baka~ ku mohon mau ya? Pyo~”
“tidak kalau panggilan itu” ucap Sasori
Lalu Deidara membenahi panggilannya untuk sang danna “um… Sasori no danna, ku mohon ya? Pyo~” nadanya begitu lembut dan menggoda. Hingga akhirnya Sasori luluh padanya.
[keinginan ketiga, mm apa ya? Ah, ya aku ingin naik sepeda dibonceng olehnya, sekalian memeluknya juga, karena saat biasa begini, aku malu untuk memeluknya. Pyo~. Kalau di sepeda kan meski erat erat, ia tak akan curuga kalau aku... ah, aku malu, pyo~]
- Sasori POV [ON]
“sudah naik?” tanya ku padanya
“sudah! Pyo~” nadanya sangat bersemangat, tak heran memang, ia kan dikurung selama 7 bulan, tentu ia bersemangat untuk sekarang. Aku senang ia bisa tersenyum lagi, lebihnya tertawa. karena aku.
Kurasakan pelukannya erat sekali kepalanya pun ia sandarkan pada punggung ku, pelukan erat namun lembut. Aku tak pernah merasakan di peluk seseorang sebelumnya. Ya, bukankah orangtua ku meninggal?.
Pertama ayahku, itu pun aku belum lahir, dan kedua Ibuku, ia meninggal ketika aku lahir. Ah, sudah lah! Aku benci mengingatnya. Yang penting, sekarang aku dapat merasakan pelukan seseorang untukku, entah yang suka padaku atau bukan, yang penting ini pelukan yang tak akan ku lupakan. Walau aku tak membalasnya. Tapi nanti lain kali akan ku balas pelukan hangat ini.
Aku mulai mengayuh sepeda yang disewakan. Kami berdua mengitari taman dengan sepeda itu. sejak tadi ia tak melepas pelukannya, tangannya setia melingkar begitu juga kepalanya masih bersandar. Aku tak tau ada apa dengannya, tapi nafasnya masih dapat kurasakan.
Sebenarnya tersirat di hati ku rasa suka pada Deidara, tapi apa dia jua suka pada ku? Yang notebane juga seorang cowok? Yang pasti dia akan ilfil pada ku, Nanti ia malah menjauhi ku dan aku tak bisa bersamanya lagi, sebaiknya disimpan saja. Sampai pada waktunya. [kapan coba?]
- Sasori POV [OFF]
- Deidara POV [ON]
Hupp! Aku menduduki jok bagian belakangnya. Lalu ia bertanya pada ku
“sudah naik?”
Tentu ku jawab “sudah!, pyo~” aku sangat semangat. Yah. terkurung di rumah sakit adalah pengalaman terburukku. Rasanya aku tak ingin kembali lagi kesana. Saat bersamanya pun aku sering tertawa, tersenyum, bertengkar, bahkan tersipu. karena dia. Pyo~
Lalu tujuanku, untuk memeluknya pun ku luncurkan. Aku langsung memeluknya dengan erat, juga aku menyandarkan kepalaku ke punggungnya. Pyo~
‘hangat, pyo~’ batin ku menikmati pelukan ini. Aku tak pernah memeluk seorang ayah, setidaknya dengan memeluk Sasori bisa membuat ku tahu, bagaimana rasanya memeluk seorang ayah. Pyo~
Meski aku tahu ia masih berumur 15 tahun, sama seperti ku. Aku menganggapnya seperti seorang ayah untuk ku, bahkan aku bermimpi ia adalah suami ku? Bodoh kan? Ia kalau Sasori no danna mau dengan ku yang juga seorang lelaki. Nanti ia malah menjauhi ku dan aku tak bisa bersamanya lagi, sebaiknya disimpan saja. Sampai pada waktunya Pyo~ [kapan coba?]
Ia mulai mengayuh, pelukan ku semakin erat, wajah ku pun ku benamkan di punggungnya. Aroma yang maskulin, aku suka bau badannya, tak seperti ku menikung agak ke cewek kan. Ini karena Okaa-chan yang mengajari ku. Pyo~
Sepanjang perjalanan, nampaknya ia juga tidak mau bicara, jadi apa yang ku lakukan? Aku asyik membenamkan wajah ku sambil berkhayal, andai aku bisa hidup kekal bersama orang ini. Tak lupa juga dengan Okaa-chan ku. Yah, perasaan ku pada Sasori ini… ia kalau ia mau hidup kekal bersama ku? Ah, aku ini, pyo~
- Deidara POV [OFF]
Read More ->>

puisi pertama ku

TAKKAN PERNAH TERSAPU MESKI PENUH DEBU

Aku hanya sosok tertunduk di antara sudut gelap.
Hanya bayang ratap yang berusaha mengusap.
Terindah kadang menjadi tak berpemilik.
Namun kenang akan selalu terlukis dalam tiap gerak-gerik.

Meski ku tutup mata.
Walau lelap menyeka.
Atau bahkan jika lelah memuncak.
Ini langkahku dengan tiap bercak.
Ketika tetes keringat bersorak.
Aku tetap pada jejak ketika awal melangkah penuh semangat mengajak.
Sahabatku adalah hati kalian ketika bunyi langkah kita seperti harmoni gitarmu<dede>,seperti teriak tanpa menyerah nyanyimu<kiting>,seperti dengung bass penuh kerja kerasmu<kentuz>,dan seperti dentum pedal drum penuh semangatmu<junet>.
Dan kalian adalah jiwaku dalam berbagi.
Aku jauh tapi dalam tiap lantun musik kalian jiwaku menyatu,karena kita sahabat satu langit dan sahabat satu hati.

Dan ketika kalian bertanya kenapa aku pulang ke rumah?
Aku hanya akan jawab,
" kalian takkan pernah sendiri,karena kutinggal tiap kenangku dalam hati yang takkan pernah tersapu meski penuh debu "
Read More ->>

Kamis, 13 Februari 2014

sekolah ku tercinta


sekolah ku smp 1 girsang sipangan bolon saya senang sekolah di sana karna saya selalu suka pepohonan  dan ke hijauan karna ubolondara yang kita hirup ini harus kita sykuri karena "Hidup hanya sekali "
makanya saya senang tinggal di parapat dan sya bangga pada sekolah saya" smp 1 girsang sipangan bolon "  dan teman teman yang baik dan bebas dari asap rokok dan narkoba hidup di parapat ternyata menyahatkan
dan guru- guru di smp 1 girsang sipangan bolon baik baik walaupun gak semua baik   tetapi itu tidak menghilangkan kecintan ke smp 1 girsang sipangan bolon

ini lah sekolah saya :

 
Read More ->>